Kita telah memasuki tahun 2018. Membahas tentang cabe, berbeda dengan saat memasuki tahun 2017, pada waktu itu masyarakat di hebohkan dengan harga cabe yang tinggi. Memang pantasa cabe dimasukkan dalam komoditi yang mempengaruhi angka inflasi karena cabe merupakan kebutuhan utama.

Awal tahun 2017 harga cabe merah keriting mencapai harga diatas Rp 80.000 per kg, sedangkan pada kondisi biasa harga cabe merah keriting hanya bergerak pada kisaran Rp 10.000 sampai Rp 18.000 per kg nya. Sungguh fantastis.

Harga cabe rawit hijau yang biasanya paling rendah sitar Rp 9.000 sampai Rp 12.000 per kg, sempat bertahan 4 bulan pada harga Tertinggi yaitu bertengger pada Rp 120.000 per kg. Harga ini lebih tinggi dari cabe rawit merah yang yang Rp 90.000 per Kg.

Pemerintah pada waktu itu dibuat panic, karena angka inflasi meningkat sampai diatas 5% sedangkan pemerintah ingin mengendalikan inflasi dibawah 5%. Berbagai upaya diupayakan  untuk menekan harga cabai. Mulai dengan menambah pasokan cabai dari provinsi lain dibawa ke Jakarta sampai menganjurkan masyarakat menanm cabe dipekarangan masing-masing. Bahkan ada pembagian bibit cabe gratis untuk ditanam dirumah. Perlu kita apresiasi pemerintah tidak melakukan solusi dengan meng import cabe dari negara lain, kecuali cabe giling atau cabe keriting yang biasanya dikonsumsi oleh industri.

Pertanyaan nya apakah petani diuntungkan dengan melonjaknya harga cabe? Jawabannyan ya diuntungkan yang panen saat harga meninggi, tetapi sebagian besar tidak sepenuh di untungkannya, Kenapa demikian? Terjadinya lonjakan harga dikarenakan pasokan cabe terbatas karena kegagalan panen cabe dengan terjadinya pola musim yang tidak menentu. Periode terjadinya hujan lebih panjang dan diselingi beberapa hari yang terik dimana hal ini menyebabkan mewabahnya hama tanaman seperti busuk buah Patek atau Antranoksa, layu bakteri dan keriting daun. Kerugian panen mencapai lebih dari 50%

Lebih parah lagi adalah menjelang lebaran, yang biasanya harga melonjak tetapi justru harga anjlok dan makin parah paska lebaran dimana harga cabe mencapai harga Rp 5.000/kg, harga dibawah Harga Pokok Produksi Rp 10.000/kg. Hal ini terjadi karena selain aksi operasi pasar pemerindah disamping banyak pemain baru yang terjun ke budidaya cabe yang menggiurkan. Mereka yang mulai menanam saat harga tinggi-tinggi nya gigit jari karena daat panen harga jatuh rendah sekali.

Bagaiman dengan kondisi peralihan tahun 2017 ke 2018 ?

Awal November harga cabe merangkak naik dengan menigkatnya curah hujan yang tinggi. Kenaikan harga tidak sedrastis awal tahun 2017. Harga cabe keriting hanya meningkat sampai Rp 40 ribuan per kilogram nya sedangkan harga cabe rawit relatif rendah pada kisaran Rp 15.000/kg