Pertanyaan yang sering diutarakan oleh pekebun adalah bagaimana melebatkan buah cabe. Bahkan banyak perdebatan mengenai kemampuan pekebun untuk bisa menghasilkan berapa kg cabe bisa didapat dari satu pohon cabe.

Kita bisa memperoleh beberapa tips yang dapat kita temukan melalui pencarian google maupun video tutorial di Youtube.

Pertanyaan nya apakah itu benar dan dari sekian tips mana yang paling menjanjikan keberhasilannya. Tidak ada cara lain selain mencoba kan di ladang sendiri.

Untuk itu , beberapa pernelitian dilakukan dalam upaya menghasilkan buah cabe yang lebat dan timbangan nya berat dengan harapan hasil panen makin untung.

Upaya meningkatkan hasil mulai dengan cara konvensional yang pada umum nya dilakukan yaitu  dengan meningkatkan penambahan  unsur P dan K, baik dengan cara dikocor maupun dengan melakukan pemupukan daun. Proses penelitian dimulai pada usia tanaman 60 Hat dimana fase vegetatif masuk ke fase generatif.

Tanaman kontrol yang digunakan hanya memperoleh asupan pupuk kocor standar NPK mutiara dengan dosis 3kg , diencerkan pada 100 liter air. setiap pohon memperoleh kocoran 200 ml. Sedang tanaman yang kita ingin upayakan berbuah lebat kita berikan dosis 2 kg NPK mutiara ditambah 1 kg SP-36 yang sudah dicairkan dan 1 kg pupuk KCl.

Pada kelompok lain sebagian di aplkasikan hormon tanaman menggunakan hormon sintetis Atonik 20 ml per tangki 14 liter dan sebagian menggunakan hormon organik Hormax dengan dosis 50 ml per tangki 14 liter.

Harga cabe yang terus melambung sangat menarik banyak orang untuk mencoba melakukan investasi berbudi daya cabe. Hitung-hitungan diatas kertas sangat menguntungkan. Walau menggunakan asumsi harga yang rendah dan produktifitas sedang angka keuntungan yang di dapat pasti menguntungkan. ini yang harus diwaspadai karena bisa menjerumuskan jika belum memiliki jam terbang yang cukup. Itungt-itunga diatas kertas dalam waktu enam bulan akan meraup minimal dua kali nilai investasi, kenyataan nya biasanya merugi dan tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.

Apakah demikian?. Kenyataan adanya indikasi harga melonjak menunjukkan bahwa pasokan cabe tidak bisa mengejar permintaan. Sedangkan permintaan nya sendiri relatif tidak melonjak. Lonjakan biasanya terjadi pada saat musim hujan dimana banyak hama menyerang dan mematikan tanaman cabe mereka. Demikian juga banyak calon petani kapok untuk ber investasi ke budidaya cabe walaupun harga cabe sangat memikat.

Banyak orang bahkan petani masih memiliki cara berpikir untuk mendapatkan hasil yang optimal secara kurang lengkap. Misalnya mereka mengejar atau mencari cara bisa menghasilkan cabe yang buahnya gondrong. itu bisa benar tapi sangat kurang lengkap. Gondrong belum ber arti beratnya juga optimal. Belum lagi kalau menghitung berapa total panen dalam skala tanam mereka. Berapa banyak yang mati, berapa banyak yang tidak berbuah atau berbuah sedikit.

Awal tahun 2018 bagi petani cabe merupakan masa yang sulit. Sebagaiman awal tahun 2017, banyak penyakit mewabah yang mengakibatkan kegagalan panen cabe.

harga cabe tahun 2018 juga meningkat tetapi tidak setinggi tahu 2017 karena akhir tahun 2017 banyak yang berbudi daya cabe, berharaqp kejadian harga tinggi seperti tahun lau terjadi lagi.

Sayang nya busuk buah patek atau Anthranoksa , juga busuk buah akibat lalat buah meluas di pulau Jawa.

Petani tidak siap untuk menhadapi serangan yang beruntun tersebut. 

Yang sering sitanyakan adalah apa penyebab nya dan bagaimana mengatasi nya?

Kita telah memasuki tahun 2018. Membahas tentang cabe, berbeda dengan saat memasuki tahun 2017, pada waktu itu masyarakat di hebohkan dengan harga cabe yang tinggi. Memang pantasa cabe dimasukkan dalam komoditi yang mempengaruhi angka inflasi karena cabe merupakan kebutuhan utama.

Awal tahun 2017 harga cabe merah keriting mencapai harga diatas Rp 80.000 per kg, sedangkan pada kondisi biasa harga cabe merah keriting hanya bergerak pada kisaran Rp 10.000 sampai Rp 18.000 per kg nya. Sungguh fantastis.

Harga cabe rawit hijau yang biasanya paling rendah sitar Rp 9.000 sampai Rp 12.000 per kg, sempat bertahan 4 bulan pada harga Tertinggi yaitu bertengger pada Rp 120.000 per kg. Harga ini lebih tinggi dari cabe rawit merah yang yang Rp 90.000 per Kg.

Pemerintah pada waktu itu dibuat panic, karena angka inflasi meningkat sampai diatas 5% sedangkan pemerintah ingin mengendalikan inflasi dibawah 5%. Berbagai upaya diupayakan  untuk menekan harga cabai. Mulai dengan menambah pasokan cabai dari provinsi lain dibawa ke Jakarta sampai menganjurkan masyarakat menanm cabe dipekarangan masing-masing. Bahkan ada pembagian bibit cabe gratis untuk ditanam dirumah. Perlu kita apresiasi pemerintah tidak melakukan solusi dengan meng import cabe dari negara lain, kecuali cabe giling atau cabe keriting yang biasanya dikonsumsi oleh industri.

Budidaya cabe penuh dengan tantangan. Peluang untuk memperoleh keuntungan besar dibandingkan tanaman tanaman palawija yang lain. Pengguna nya banyak sehingga harga akan melonjak apabila pasokan berkurang. Pemerintah pun memasukkan cabe sebagai indikator inlasi karena begitu sensitifnya harga sehingga bisa mempengaruhi harga cabe di tingkat pelanggan. Harga cabe akan meningkat di hari raya lebaran dan juga biasanya di akhir tahun.

Kenaikan dihari raya lebaran karena permintaan cabe yang meningkat sejalan dengan meningkatnya konsumsi makanan untuk berbuka selama bulan puasa dan perayaan hari raya lebaran. Sedang si akhir tahun situasinya berbeda, harga cabe melonjak karena mulai bulan November sampai Februari merupakan periode musim hujan dimana produktifitas cabe menurun akibat banykna penyakit cabe yang menggagalkan panen. 

Demikian lah dibalik peluang meraup keuntungan yang menawan tadi, juga banyak tantangan agar tidak gagal panen yang tentunya merugikan petani. Investasi dalam berbudi daya cabe cukup tinggi, saat ini berkisar antarr Rp40 juta hingga Rp 80 juta per satu musim tanam selama 6 bulan.

Petani akan memperoleh keuntungan apabila produktifas produksi per satuan luas tanah tinggi, biaya yang dikeluarkan rendah dan harga jual yang tinggi.